Kamis, 29 Mei 2014. Hatiku terasa penat melihat pekerjaan yang tiada habisnya. Bahkan hingga pukul 5 sore ku masih harus mengerjakan semuanya. Lalu ku pergi diam-diam dengan perasaan "bodo amat" untuk hari ini kuharus bahagia, persetan dengan kehidupan bagai kuda ini.
Ku mulai pulang dengan menaiki mobil biru, sampai di ujung jalan sekitar 300 meter dari jalan raya, terjadi kemacetan yang lumayan parah. Tanpa mikir panjang, ku pilih berlari sebagai alternatif terbaik. 300 meter bukan halangan. Ku berpindah mobil menyusuri jalan Raya Bogor. Di perempatan jalan menuju arah pulang terjadi kemacetan lagi, baiklah. 100 meters can't stop my ambition. Ku pilih berlari sampai rumah yang jaraknya sekitar 300 meter dari jalan raya. Aku harus pulang dulu karena kebodohanku yang tidak membawa baju ganti, dan belum mandi. Dan kebodohanku masih berlanjut dengan meninggalkan botol minum kesayangan di kamar.
Run Run Run! Kulari lagi ke jalan raya, naik mobil lagi menuju stasiun. Di stasiun aku juga masih lari-lari menuju loket dan lupa di mana naruh uangku. Oh, God! Selesai urusan tiket, ku masih harus menunggu kereta yang ke arah Tanah Abang. 15 menit adalah waktu yang kusia-siakan di stasiun dengan perasaan yang bergejolak. Aku tak kuasa menahan rasa kalut, aku hampir putus asa. Masuk kereta, yang kuharapkan cuma satu, cepat sampai tujuan. Di tengah rasa kalut yang semakin pekat handphoneku berbunyi, kulihat Lidya memanggil. Kuangkat, terdengar samar-samar dari jauh percikan-percikan semangat dari sahabat-sahabat terbaik gue. Saat diri sendiri tak punya pegangan, sahabat adalah sandaran terbaik untuk musnahkan ketakutanmu.
Di saat kepercayaanku mulai membaik, kereta sudah sampai stasiun tujuan. Aku berlari lagi ke arah halte busway yang jaraknya lumayan jauh juga. Aku bahkan tak peduli dengan orang-orang sekitar, bahkan aku sempat teriak-teriak sekedar membakar semangat sendiri. Kembali, sahabat-sahabatku melakukan Motivation Call. Ya, aku sangat berhutang kepada kalian. Naik busway, turun halte di GBK. Aku sudah letih, tak kuat berlari lebih. Ku hanya mencoba berjalan lebih cepat sambil memaki diri sendiri. Masuk FX, ku langsung menuju F5, tempat yang dijanjikan. Perasaan lega akhirnya ku dapat. Terima kasih, Tuhan.
Sampai di situ aku mulai bicara serius sama pujaan hatiku, Vita. Entah dengan jawaban apapun, aku lega sudah bisa menemuinya. Jadi, tujuanku sampai di sini hanya mau bilang sayang tanpa peduli hasilnya. Yang aku butuhin hanya kelegaan dan bisa bertemu Vita. Beruntung, Vita bukan orang yang suka mengecewakanku.
Terima kasih untuk anak kampung, sahabat yang luar biasa. Lidya (Oji), Rama, Okta, Dede, Hanna (Septian) juga Tirta. Terima kasih juga untuk Kak Mariska yang ternyata juga peduli meskipun dari Negeri Seberang, Kak Sora yang sudah jagain Vita bareng anak kampung sebelum diriku datang. Aku beruntung kenal kalian semua, traktiran juga belum cukup membayarnya. Terima kasih juga untuk Vita yang tidak mengecewakanku. Sekarang real life ku lebih bermakna.
TERIMA KASIH!