Pages

Saturday, December 17, 2016

Karena Aku Terbisa Rindu Saat Tanpamu...



Beberapa hari yang lalu kamu bertanya, “nulis di blog lagi ngga?” aku bilang belum ada waktu saat itu. Dan hari ini akhirnya aku merasa perlu buat nulis di sini lagi. Tentu tentang kita, masalah kita dan perasaan ini...

Di awal jadian, perasaan kita cenderung tak ada yang istimewa. Bahkan aku tau kalau kamu tidak ada rasa ‘sayang’ sedikit pun terhadapku. Aku? Memang, aku saat itu aku ngerasa sayang, tapi ya mungkin tidak terlalu besar. Hingga akhirnya kita jadi sepasang kekasih dengan modal “kita jalanin aja dulu”. Sampai sini aku tidak ada ekspektasi lebih terhadap huubungan ini. Hingga berjalannya waktu, aku yang sebelumnya biasa dikalahkan oleh “kebiasaan”, iya, akhirnya aku benar-benar merasa sayang secara utuh terhadap kamu.

Seiring waktu, kita mulai menjalani cerita, beberapa seperti yang pernah aku tulis di artikel sebelumnya. Singkatnya, di artikel kedua ini aku ingin curhat tentang yang aku rasain hari ini...

Sedari semalam kita sedang menjalani rumitnya masalah sepele. Saat aku dikalahkan oleh rasa emosi, aku mulai marah-marah tidak jelas. Dan kamu pun tak kalah menunjukkan kemampuan kamu untuk marah. Saat aku mulai bisa kendaliin diri, aku sadar kalau aku sudah terlambat. Kamu sudah masuk fase “kesal” yang beneran kesal. Aku coba buat temuin kamu, berharap kita sama-sama bisa bicara baik-baik, nyatanya aku kembali terjebak dalam kubang emosi. Aku pulang dengan perasaan campur aduk, aku ingin marah. Aku ingin menyalahkan kamu dengan segala dakwaan bahwa kamu adalah orang yang cuek, kalau dinasehatin susah, kamu orangnya emosian, kamu orang yang ga pernah belajar hingga kita selalu bertengkar. Nyatanya, aku terlalu jemawa dengan berpikir seperti itu. Seperti bumerang, hal-hal yang aku tuduhkan tersebut berlaku juga buat aku. Iya, aku terlalu sibuk membenarkan kebenaran versi aku sendiri tanpa mementingkan apa sebenarnya alasan kita harus bersama. Iya, aku sadar aku juga egois.

Akhirnya tadi pagi aku merasa sangat kecewa, saat semalam kita sepakat bahwa aku akan antar-jemput kamu kuliah, terus aku ingin ajak jalan, semuanya jadi kacau saat kamu lebih memilih untuk berangkat sendiri. Dan saat pulang, tanpa kasih kabar kamu sudah di jalan pulang, padahal aku sudah nunggu di depan kampus kamu dari jam 11 siang. Lagi-lagi masalah komunikasi jadi sumber masalah di antara kita. Aku ngerasa kecewa, cape, dan ga tau lagi mau gimana. Aku ngerasa gelisah se-gelisah-gelisahnya. Mungkin kamu sampai sekarang berpikir kalau aku masih menuntut kamu untuk ini-itu gara-gara kejadian dari semalam, padahal itu tidak benar sama sekali. Aku sudah sadar kalau aku sendiri juga harus berubah. Bukan jadi orang lain, tapi jadi lebih baik. Memanajemen emosi memang susah, tapi bukan mustahil buat dilakukan bukan? Di awal kita pacaran mungkin aku orangnya sabar, sering ngalah. Tapi makin ke sini aku mulai sadar kalau aku ikut terbawa emosi saat kamu emosi, saat kamu keras aku keras, saat kamu teguh sama pemikiran kamu, aku juga begitu. Harusnya aku terus bersabar agar kamu bisa ngikutin aku sabar, bukan aku ikut marah saat kamu marah. Mungkin inilah yang disebut karena makin sayang, makin kita ingin pasangan kita bersikap sama seperti yang kita ingin. Mungkin aku terlalu jauh menuntut dan berharap tentang ini.

Saat aku terbawa emosi, aku ingin segera masalah ini berakhir entah dalam keadaan kita masih bersatu ataupun kita berpisah. Hingga aku tersadar bahwa hubungan ini akan baik-baik kembali jika kita bersikap sama seperti awal kita pacaran. Kita memang perlu mereset sikap kita yang berfikir kalau hubungan kita baik-baik saja, terlalu naif memang jika kita berpikir seperti itu.

Jadi mulai di sini, ijinkan aku jadi pihak yang bersalah. Merawat hubungan baik tidak cukup dengan saling koreksi, tapi juga intropeksi. Kuharap kita masih ada kesempatan untuk terus bersama. Memang, piring yang sudah pecah jika diperbaiki akan meninggalkan bekas. Kalau sudah begitu buang saja piring itu, kita beli yang baru dan lebih bagus. Seperti halnya hubungan kita yang mulai retak ini, alangkah baiknya kita buang sekalian sifat-sifat buruk kita yang membuat retak hubungan kita ini, ayo kita mulai lagi.


Jadi, apakah kamu masih bersedia untuk bersama-sama berfikir dewasa, saling koreksi dan intropeksi diri? Aku sayang kamu lebih dari pertama kali kita dipersatukan, aku sudah terbiasa merasa rindu saat kita tidak bersama. Jangan biarkan itu berakhir.

Sayang..

Thursday, December 8, 2016

Kita

Mencintaimu adalah hal yang tak pernah aku bayangkan sejak awal aku melihatmu. Tiada kesan apa-apa, bahkan aku cenderung apatis jika kucoba mengingat-ingatnya.

Kamu adalah temanku sendiri. Kamu adalah apa alasanku bungkam terhadap isi hatiku. Iya, aku menyukai kamu tanpa kamu tahu. Kamu, temanku sendiri.

Hingga ketika waktu tiba, aku mencoba jujur dengan memilih sejalan atas suara hati. Dengan segala resiko, aku memberanikan diri untuk tergabung pada kerumitan kisah cinta. Dan akhirnya kita mempunyai status yang baru.

Di awal kita bersama, semua terasa kaku. Kebiasaan seakan menenggelamkan alasan kita saling terhubung setiap hari. Seiring berjalannya waktu, akhirnya kita memulai menikmati manisnya hubungan kita, sebulan pertama kita adalah dua manusia paling berbahagia.

Memasuki tiga puluh hari kedua, hal-hal kecil dan sepele adalah alasan kita berbeda pendapat. Aku harus mencoba membiasakan diri atas rumitnya cerita ini. Kita mulai meributkan hal yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan. Namun saat itu juga aku merasa sehari tanpa adanya pertemuan adalah sebuah kerinduan.

Seperempat tahun waktu berlalu, kita makin sering berdebat. Sudahlah, biarkan semua mengalir seperti kita memulai kisah ini.

Cerita bersamamu adalah sebuah hal unik yang pernah aku jalani.

Ada waktu ketika aku hanyut akan sebuah emosi, dan kamu menyambutnya dengan hal yang sama. Sebenarnya itu bukan hal aku harapkan. Memang benar jika pertengkaran adalah penyedap dalam sebuah hubungan, namun, seberapa banyak penyedap yang dibutuhkan? Berlebihan pun akan terasa tidak nyaman.

Hingga akhirnya ketika aku menulis ini, kita sedang terlibat dalam sebuah keributan kecil karena hal sepele. Aku cuma ingin pertanyaan yang aku ajuin kamu jawab. Namun sebegitu sulitnya ternyata kamu sekedar memberi tahu bahwa kamu tak ingin menjawabnya. Apa artinya sebuah hubungan tanpa komunikasi yang jelas? Aku selama ini sering menanyakan sesuatu kepadamu, kamu sering juga hanya membacanya. Sepele? Iya.

Aku sampai tidak tahu harus bagaimana agar kamu bisa menghargai atas pertanyaan yang aku beri. Jawablah jika kamu memang mau menjawabnya, beritahu pula jika kamu memang tidak bersedia menjawabnya. Hening bukan pilihan, hal sepele menjadi keributan juga bukan sebuah penyelesaian.

Saat bertemu pun terkadang kamu lebih asik dengan handphone-mu. Baiklah, aku kali tidak ingin melarangmu bermain handphone. Tapi dengan lebih sering kamu bermain handphone, maka itu sebanding dengan waktu yang kita buang.

Mohon maaf jika aku ada salah dalam menceritakan ini. Lebih dari yang kamu tahu, aku selama ini selalu mempermasalahkan hal ini lebih karena aku sayang dengan hubungan kita. Aku ingin kita lebih terbuka, komunikasi lebih baik. Bukankah itu harapan dari kamu ketika kita tepat satu bulan?
 
Dengan secara sadar aku tahu bahwa inilah resiko yang kita ambil dengan memilih untuk menjadi sebuah pasangan. Aku ingin kita sama-sama bisa saling berbagi, belajar, hingga mendewasakan diri karena kita terjebak dalam sebuah masalah. Namun dengan frekuensi kita ribut makin sering, itu artinya ada yang salah dengan kita. Apa kamu masih bersedia membenarkan apa yang salah di antara kita? Dan kuharap kita tak lagi saling menyalahkan.

Dari aku yang selalu menyayangimu, Arie.


*NB: Aku tidak pernah bermaksud mengatur-atur kamu.