Pages

Saturday, December 17, 2016

Karena Aku Terbisa Rindu Saat Tanpamu...



Beberapa hari yang lalu kamu bertanya, “nulis di blog lagi ngga?” aku bilang belum ada waktu saat itu. Dan hari ini akhirnya aku merasa perlu buat nulis di sini lagi. Tentu tentang kita, masalah kita dan perasaan ini...

Di awal jadian, perasaan kita cenderung tak ada yang istimewa. Bahkan aku tau kalau kamu tidak ada rasa ‘sayang’ sedikit pun terhadapku. Aku? Memang, aku saat itu aku ngerasa sayang, tapi ya mungkin tidak terlalu besar. Hingga akhirnya kita jadi sepasang kekasih dengan modal “kita jalanin aja dulu”. Sampai sini aku tidak ada ekspektasi lebih terhadap huubungan ini. Hingga berjalannya waktu, aku yang sebelumnya biasa dikalahkan oleh “kebiasaan”, iya, akhirnya aku benar-benar merasa sayang secara utuh terhadap kamu.

Seiring waktu, kita mulai menjalani cerita, beberapa seperti yang pernah aku tulis di artikel sebelumnya. Singkatnya, di artikel kedua ini aku ingin curhat tentang yang aku rasain hari ini...

Sedari semalam kita sedang menjalani rumitnya masalah sepele. Saat aku dikalahkan oleh rasa emosi, aku mulai marah-marah tidak jelas. Dan kamu pun tak kalah menunjukkan kemampuan kamu untuk marah. Saat aku mulai bisa kendaliin diri, aku sadar kalau aku sudah terlambat. Kamu sudah masuk fase “kesal” yang beneran kesal. Aku coba buat temuin kamu, berharap kita sama-sama bisa bicara baik-baik, nyatanya aku kembali terjebak dalam kubang emosi. Aku pulang dengan perasaan campur aduk, aku ingin marah. Aku ingin menyalahkan kamu dengan segala dakwaan bahwa kamu adalah orang yang cuek, kalau dinasehatin susah, kamu orangnya emosian, kamu orang yang ga pernah belajar hingga kita selalu bertengkar. Nyatanya, aku terlalu jemawa dengan berpikir seperti itu. Seperti bumerang, hal-hal yang aku tuduhkan tersebut berlaku juga buat aku. Iya, aku terlalu sibuk membenarkan kebenaran versi aku sendiri tanpa mementingkan apa sebenarnya alasan kita harus bersama. Iya, aku sadar aku juga egois.

Akhirnya tadi pagi aku merasa sangat kecewa, saat semalam kita sepakat bahwa aku akan antar-jemput kamu kuliah, terus aku ingin ajak jalan, semuanya jadi kacau saat kamu lebih memilih untuk berangkat sendiri. Dan saat pulang, tanpa kasih kabar kamu sudah di jalan pulang, padahal aku sudah nunggu di depan kampus kamu dari jam 11 siang. Lagi-lagi masalah komunikasi jadi sumber masalah di antara kita. Aku ngerasa kecewa, cape, dan ga tau lagi mau gimana. Aku ngerasa gelisah se-gelisah-gelisahnya. Mungkin kamu sampai sekarang berpikir kalau aku masih menuntut kamu untuk ini-itu gara-gara kejadian dari semalam, padahal itu tidak benar sama sekali. Aku sudah sadar kalau aku sendiri juga harus berubah. Bukan jadi orang lain, tapi jadi lebih baik. Memanajemen emosi memang susah, tapi bukan mustahil buat dilakukan bukan? Di awal kita pacaran mungkin aku orangnya sabar, sering ngalah. Tapi makin ke sini aku mulai sadar kalau aku ikut terbawa emosi saat kamu emosi, saat kamu keras aku keras, saat kamu teguh sama pemikiran kamu, aku juga begitu. Harusnya aku terus bersabar agar kamu bisa ngikutin aku sabar, bukan aku ikut marah saat kamu marah. Mungkin inilah yang disebut karena makin sayang, makin kita ingin pasangan kita bersikap sama seperti yang kita ingin. Mungkin aku terlalu jauh menuntut dan berharap tentang ini.

Saat aku terbawa emosi, aku ingin segera masalah ini berakhir entah dalam keadaan kita masih bersatu ataupun kita berpisah. Hingga aku tersadar bahwa hubungan ini akan baik-baik kembali jika kita bersikap sama seperti awal kita pacaran. Kita memang perlu mereset sikap kita yang berfikir kalau hubungan kita baik-baik saja, terlalu naif memang jika kita berpikir seperti itu.

Jadi mulai di sini, ijinkan aku jadi pihak yang bersalah. Merawat hubungan baik tidak cukup dengan saling koreksi, tapi juga intropeksi. Kuharap kita masih ada kesempatan untuk terus bersama. Memang, piring yang sudah pecah jika diperbaiki akan meninggalkan bekas. Kalau sudah begitu buang saja piring itu, kita beli yang baru dan lebih bagus. Seperti halnya hubungan kita yang mulai retak ini, alangkah baiknya kita buang sekalian sifat-sifat buruk kita yang membuat retak hubungan kita ini, ayo kita mulai lagi.


Jadi, apakah kamu masih bersedia untuk bersama-sama berfikir dewasa, saling koreksi dan intropeksi diri? Aku sayang kamu lebih dari pertama kali kita dipersatukan, aku sudah terbiasa merasa rindu saat kita tidak bersama. Jangan biarkan itu berakhir.

Sayang..

Thursday, December 8, 2016

Kita

Mencintaimu adalah hal yang tak pernah aku bayangkan sejak awal aku melihatmu. Tiada kesan apa-apa, bahkan aku cenderung apatis jika kucoba mengingat-ingatnya.

Kamu adalah temanku sendiri. Kamu adalah apa alasanku bungkam terhadap isi hatiku. Iya, aku menyukai kamu tanpa kamu tahu. Kamu, temanku sendiri.

Hingga ketika waktu tiba, aku mencoba jujur dengan memilih sejalan atas suara hati. Dengan segala resiko, aku memberanikan diri untuk tergabung pada kerumitan kisah cinta. Dan akhirnya kita mempunyai status yang baru.

Di awal kita bersama, semua terasa kaku. Kebiasaan seakan menenggelamkan alasan kita saling terhubung setiap hari. Seiring berjalannya waktu, akhirnya kita memulai menikmati manisnya hubungan kita, sebulan pertama kita adalah dua manusia paling berbahagia.

Memasuki tiga puluh hari kedua, hal-hal kecil dan sepele adalah alasan kita berbeda pendapat. Aku harus mencoba membiasakan diri atas rumitnya cerita ini. Kita mulai meributkan hal yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan. Namun saat itu juga aku merasa sehari tanpa adanya pertemuan adalah sebuah kerinduan.

Seperempat tahun waktu berlalu, kita makin sering berdebat. Sudahlah, biarkan semua mengalir seperti kita memulai kisah ini.

Cerita bersamamu adalah sebuah hal unik yang pernah aku jalani.

Ada waktu ketika aku hanyut akan sebuah emosi, dan kamu menyambutnya dengan hal yang sama. Sebenarnya itu bukan hal aku harapkan. Memang benar jika pertengkaran adalah penyedap dalam sebuah hubungan, namun, seberapa banyak penyedap yang dibutuhkan? Berlebihan pun akan terasa tidak nyaman.

Hingga akhirnya ketika aku menulis ini, kita sedang terlibat dalam sebuah keributan kecil karena hal sepele. Aku cuma ingin pertanyaan yang aku ajuin kamu jawab. Namun sebegitu sulitnya ternyata kamu sekedar memberi tahu bahwa kamu tak ingin menjawabnya. Apa artinya sebuah hubungan tanpa komunikasi yang jelas? Aku selama ini sering menanyakan sesuatu kepadamu, kamu sering juga hanya membacanya. Sepele? Iya.

Aku sampai tidak tahu harus bagaimana agar kamu bisa menghargai atas pertanyaan yang aku beri. Jawablah jika kamu memang mau menjawabnya, beritahu pula jika kamu memang tidak bersedia menjawabnya. Hening bukan pilihan, hal sepele menjadi keributan juga bukan sebuah penyelesaian.

Saat bertemu pun terkadang kamu lebih asik dengan handphone-mu. Baiklah, aku kali tidak ingin melarangmu bermain handphone. Tapi dengan lebih sering kamu bermain handphone, maka itu sebanding dengan waktu yang kita buang.

Mohon maaf jika aku ada salah dalam menceritakan ini. Lebih dari yang kamu tahu, aku selama ini selalu mempermasalahkan hal ini lebih karena aku sayang dengan hubungan kita. Aku ingin kita lebih terbuka, komunikasi lebih baik. Bukankah itu harapan dari kamu ketika kita tepat satu bulan?
 
Dengan secara sadar aku tahu bahwa inilah resiko yang kita ambil dengan memilih untuk menjadi sebuah pasangan. Aku ingin kita sama-sama bisa saling berbagi, belajar, hingga mendewasakan diri karena kita terjebak dalam sebuah masalah. Namun dengan frekuensi kita ribut makin sering, itu artinya ada yang salah dengan kita. Apa kamu masih bersedia membenarkan apa yang salah di antara kita? Dan kuharap kita tak lagi saling menyalahkan.

Dari aku yang selalu menyayangimu, Arie.


*NB: Aku tidak pernah bermaksud mengatur-atur kamu.

Tuesday, May 31, 2016

Semua Cowok Itu Sama Aja!

"Semua cowok itu sama aja!"
Ada ngga di antara kalian atau teman kalian punya prinsip semacam itu? Sejujurnya, aku pribadi benci dengan kalimat itu. Cukup banyak alasan untukku membenci kalimat itu.

Di pelajaran Bahasa Indonesia kalian sewaktu SD mungkin ada pepatah, "Karena nila setitik rusak susu sebelanga". Nah, kurang lebihnya seperti itulah yang terjadi dengan kalimat "semua cowok sama aja".
Misal ada satu cowok yang nyakitin hati cewek, lantas si cewek langsung ngucap sumpah serapah diikuti kalimat "semua cowok sama aja". Apakah itu benar? Tentu tidak. Bagaimana karena satu perbuatan seseorang kamu langsung ngejudge semua orang? Bukan begitu. Itu bukan cara yang benar, jangan buat sulit hidupmu.

Ada juga saat di mana seorang cowok ingin mengatakan cinta ke seorang cewek. Karena si cowok ingin lebih romantis, dia datang dengan membawa bunga. Dan ternyata si cewek menolak si cowok dengan alasan cara nembaknya mirip dengan yang dilakuin mantan pacar yang pernah buat dia sakit hati. Kalau hal seperti ini pernah kejadian, aku ngga tau seperti apa kecewanya perasaan si cowok. Ya, buat si cewek sebenarnya perlu move on saja, bukan terus menyalahkan orang lain. Apalagi menyamakan sifat seseorang yang sama sekali berbeda. Bukankah cewek juga benci jika dibanding-bandingkan dengan orang lain? Iya, semua orang tak pernah benar-benar identik. Hal yang mungkin sama itu kebetulan semata. Kamu percaya de javu?

Sulit memang untuk membantah atau menyangkal sebuah prinsip seseorang. Ya, meskipun itu salah. Bukankah beda pribadi beda sifat? Adilkah bilang semua cowok itu brengsek?

Kalau kalian pernah baca survey cinta-cintaan di majalah-majalah gitu apakah kalian langsung percaya jawaban dengan persentase terbesar? Sebaiknya jangan, persentase itu cuma angka. Jadi semisal ada survey menyebut 90% cowok itu bullshit biarin aja, karena itu cuma pendapat orang lain. Pendapat kamu? Ya kamu sendiri yang tentuin, berdasarkan fakta tentunya.

Jadi, mulai sekarang percayalah dengan hati sendiri. Rasakan dan buktikan, jangan hanya menebak-nebak. Oke, jadi mulai sekarang berhentilah memberi nilai tanpa melihat jawaban. Di luar sana masih banyak cowok baik yang kalah saing sama bad boy.

*Bagi yang punya bantahan atau sangkalan untuk artikel ini, bisa langsung hubungi saya via twitter: @arnvch.

Saturday, May 28, 2016

Karena Cinta yang Baik Tak Selalu yang Termiliki

Hari ini sebenarnya aku sedang tidak ada jadwal libur, tetapi karena ada suatu hal, hari liburku ditunda jadi hari ini. Saat bangun pagi, aku bingung mau ke Balai Kartini atau ngga. Ya, meskipun Chibi nyuruh aku buat datang. Iya, ke acara JKT48 yang sudah berkurang candunya itu. Anyway, Chibi alias Anisa ini teman jauhku yang udah kaya adikku sendiri.

Hari beranjak siang, aku mencoba keluar rumah buat nyari makan. Si Chibi mention di twitter lagi biar aku datang ke Balai Kartini. Niatku tak seberapa buat nembus panas siang ini. Maaf lho, Bi.

Saat mention Chibi aku cuekkin, aku buka Line. Ada chat dari oknum yang bikin aku hari ini jadi Bucin Wannabe. Tau Bucin? Budak Cinta. Allah. Simpel saja buat ngeruntuhin batu di hatiku, "HS ga?", dan aku jawabnya: "Iya, ini mau ke situ." Aku seperti hilang kontrol, langsung tancap gas ke Balai Kartini. It's magic.

Sampai Balai Kartini, aku cuma lihat-lihat aja. Sekilas aku lihat "oknum" ini juga. Cuma aku pura-pura ga ngelihat. Ya Allah, rasanya salting itu kaya gini ya? Meskipun aku udah lama suka sama "oknum" ini, tapi rasanya masih sama aja. Masih awkward saat bertemu. Aku tidak pandai menyembunyikan perasaan.

Sampai akhirnya aku ketemu dengan rombongan Kak Cello. Aku dikasih 1 tiket Sendy. Kemudian ngantri deh di depan bilik. Tak disangka, si "oknum" datang. Aku ajak salaman, dan aku lupa lepasin tangannya sampai akhirnya dicela Kak Cello. Aku kenapa, Ya Allah? Kemudian ada sedikit obrolan basa-basi alias aku tak tau mau nanya apa karena saking gugupnya, hingga akhirnya dia pergi ke bilik oshinya.

Sekarang ijinkanku bercerita tentang kisah salamanku dengan Sendy.
Jadi.... "Nah, ini. Kemarin-kemarin ke mana aja ga hensek?" Baru jawab dikit waktu sudah habis, pas ngeloyor pergi diteriakkin buat beli lagi. Yaelah, ini tiket gratisan, Buk. Lagian udah sold out. Wiwikwiwikwiwik. Eh, itu mah ketawanya Kak Cello.

Keluar dari area HS, aku nyamperin si "oknum" tadi. Pura-pura kuat aja aku mah, padahal mah udah kaya kardus basah ini perasaan. Ngobrol bentar, yang penting gesrek braaayyy...

Setelah itu, aku pamit ke Kak Cello buat pulang duluan. Sama si "oknum" juga pamit sih. Aduh, jadi kangen lagi.

Kurang lebihnya gitu sih ceritaku jadi Bucin hari ini. Ya, meskipun kisah perjalanan cinta searah pun tak mengapa. Karena ini seperti di artikelku sebelumnya, meskipun kita ga ada ikatan, tapi dia tetap ngehargain perasaanku. Karena cinta yang terbaik bukan yang harus termiliki. Dan maaf lagi kalau kebaikanmu cuma kubalas rindu.

Sunday, May 15, 2016

Bahkan Aku Sudah Lupa Rasanya Jatuh Cinta..

Cinta. Memang sepatah kata, namun tak sesederhana pengejaannya jika kita mulai merasa.

Aku sendiri terakhir merasakan cinta mungkin setahun yang lalu. Saat itu aku merasa suka dengan seorang yang mempunyai hobi yang sama denganku. Pertama kali mungkin aku hanya sekilas melihatnya, saat itu dia sedang ngobrol dengan temanku. Awalnya sih cuek aja, ya wajar sih pikirku seorang cowok bakal tertarik dengan cewek sekalipun itu pandangan pertama. Hingga akhirnya nasib baik sedang mendekatiku, saat membuka twitter ada akun dia lewat di timelineku. Langsung saja aku follow saat itu. Aku mulai mendekati dia lewat twitter, lantas aku minta kontak dia. Makin lama aku makin akrab dengan dia, ya meskipun itu dari sudut pandangku. Hingga suatu hari ada kesempatan untukku lebih dengan dia. Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengajak dia menjalankan ibadah berdasarkan hobi yang identik ini, menonton konser JKT48.

Dalam perjalanannya, sedikit aku ngerasa awkward. Gimana engga, ada seorang teman yang ngikut-ngikut buat jadi setan di antara kita. Hingga saat menonton konser makin absurd saat aku teriak-teriakkin nama Viny sama Yona. Ada juga saatnya aku jadi budak rasa haru dalam alunan Sasae. Call me wota, please.

Saat menonton konser itu pun kita lebih banyak diam. Maklum, saat itu adalah hari pertama kita kenalan. Udah awkward diikutin orang ketiga, ini juga perkenalan pertamaku dengan dia. Dan yang aku rasa sampai sekarang, kenapa aku gagal membuat hari pertama itu lebih baik? Ah.
Anyway, terimakasih banyak buat seorang teman yang sangat mau membantuku saat itu. Mulai jadi tempat curhat, hingga jadi promotor hari pertamaku kenalan dengan dia. Aku punya hutang banyak.

Di luar kejadian itu, kita lebih banyak ketemu karena nasib kurang baik dia aja, iya ketemu sama aku. Aku yang sebelumnya merasa jumawa, akhirnya perlahan-lahan runtuh saat tahu bahwa bukan aku. Iya, bukan aku yang mungkin dia harapkan. Sedih? Iya.

Tapi, hingga saat ini pernah ga sih aku nyimpen rasa dendam? Pengen ngejauh, ga pengen kenal lagi, atau acuh saat bertemu? Tidak. Aku lelah jadi pecundang. Cukuplah aku kalah sama takdir, tapi aku tak layak membenci dia yang pernah buat aku tahu rasanya menghargai. Iya, dia adalah orang yang kutahu sanggup menghargai orang lain. Sesuatu yang layak jika aku bilang dia itu istimewa.

Hingga saat ini aku masih sendiri, bahkan belum merasa jatuh cinta lagi. Atau mungkin aku sudah lupa bahwa aku pernah jatuh cinta. Tapi yang jelas, aku masih ada rasa kepada dia yang ada di cerita ini. Terima kasih telah pernah menghargaiku, maaf jika hanya kubalas rindu. Salam sayang.

Wednesday, May 11, 2016

Cowok Ganteng apa Cowok Humoris?

Tipe pasangan adalah masalah selera. Terkadang di dunia ini lelaki yang tampan sekalipun belum tentu gampang mendapatkan pasangan. Iya, tak selamanya paras rupawan itu punya derajat lebih baik. Kali ini aku akan membahas 2 kriteria atau tipe cowok yang sering diperdebatkan, ganteng atau humoris.

Cowok Ganteng
Mungkin cowok ganteng kalau dipandang bakal bikin betah, semacam selimut tebal dan kasur empuk di musim dingin. Mungkin buat kamu yang suka pamer, cowok ganteng adalah solusi. Uuuppss... Keuntungan punya cowok ganteng, menurut perspektif saya (sebagai cowok tentunya), adalah membuat si cewek lebih pede. Misal buat diajak jalan bareng sama temen-temennya. Tapi bikin was-was juga kalau ada niat terselubung dari temen yang lain. Akan tetapi, bukan semua cowok ganteng itu enak dalam hal komunikasi, contohnya si cowok orangnya dingin. Diajak bercanda tetap saja pasang tampang datar. Belum tentu juga si cowok romantis. Eemm...

Cowok Humoris
Pernah ga ngebayangin punya pacar pelawak? Mereka humoris, tapi ga selalu lucu sih. Hahaha. Keuntungan punya pacar humoris adalah kamu tak perlu takut kehabisan bahan buat diomongin. Setiap kalimatnya biasanya bisa menimbulkan senyum. Bayangkan coba kalau kamu sebagai cowok humoris, ngasih guyonan kecil ke cewek kamu, anggap saja Veranda, lalu dibalas sama senyumnya. Gimana rasanya? Sanggup ngebayangin?
Untuk kelemahan, kamu akan sulit menemukan letak seriusnya makhluk macam ini. Aku sendiri mungkin masuk golongan humoris, karena aku sendiri tak terlalu tampan. Halah. Itu juga sebabnya beberapa teman bilang ga bisa bedain kapan aku serius kapan juga bercanda.

Kurang lebihnya begitulah ulasan singkat tentang dua tipe cowok. Semua ada keuntungan ada juga kelemahannya. Karena cinta adalah tentang kenyamanan, semua kembali lagi ke subjek. Jadi, kamu pilih cowok humoris atau cowok ganteng?

Tuesday, May 10, 2016

Patah Hati

Terlalu sering dirasa. Iya, mungkin itu deskripsi singkat apa itu patah hati. Maybe, sudah ratusan kali aku merasa yang namanya patah hati. Dan sesering itu pula aku menahan, bersembunyi dalam tawa yang memang terlalu akrab di wajahku.

Pernah suatu ketika aku sedang jatuh cinta, aku hanya sanggup menahan. Bukan, bukan aku tak berani mengatakan cinta, lebih kepada aku tak ingin disalahkan atas waktu yang terlalu cepat. Ah, ternyata itu hanya teori lelaki. Belum sempat aku mengatakan, aku diberi tahu dia sudah dengan yang lain dengan alasan aku terlalu lama. Kali ini aku percaya akan filosofi wanita selalu benar. Tapi ada kalanya juga kita tak harus selalu menyalahkan hak wanita yang satu itu, cukup kita bercermin. Dan akhirnya aku patah hati.

Pernah juga aku menyukai teman sekelasku sewaktu SMA. Aku sebenarnya tahu kalau dia sudah punya kekasih, jadi aku bersikap biasa. Hingga akhirnya tak bisa lagi sang rasa bersembunyi dari tuannya. Dari situ banyak orang bilang bahwa aku hanya dimanfaatin. Aku sendiri tak memikirkan itu. Aku lebih percaya bahwa yang membuatku nyaman berarti hal yang tepat buatku. Bukankah cinta tak harus memiliki? Tanpa memilikinya saja aku nyaman. Kalau aku memiliki apakah nyaman juga? Belum tentu, jadi enak mana? Oh iya, akhirnya setelah lulus SMA aku sempat jadian dengan dia. Akhirnya? Aku dan dia terlalu nyaman sebagai sahabat. Pacaran bukan solusi buat kami.

Itu dua cerita yang pernah aku rasakan tentang pengalaman patah hati. Antara kurang cepat dan suka dengan kekasih orang. Salah siapa? Tiada yang salah di sini. Karena memang cinta tak pernah salah. Dengan kedua orang yang aku ceritakan di atas, aku masih baik-baik saja. Aku tak pernah memendam dendam. Biarlah kita tetap saling mengenal, dan biarkan aku tetap menyayangi sekaligus melupakan patah hati yang pernah terjadi.

Patah hati. Sudah biasa terjadi.

Monday, May 2, 2016

Nulis Tutorial Buat Jadi Jomblo Ngenes?

Hai, guys. Gue balik lagi nulis di blog ini. Kemarin-kemarin gue lagi males banget buat nulis di blog ini, ga tau kenapa. Hingga akhirnya gue bikin blog baru, nulis di sana. Tapi ya dasarnya ini blog pertama gue, rasanya beda banget. Dan akhirnya gue pulang. Halah.

Gue mulai hari ini bakal lebih sering nulis di blog ini lagi. Pengen tulisan gue dengan tema apa? Jomblo? Jones? Jomblo Ngenes? Eh, udah pernah ding. Masa iya gue nulis hal yang sama terus?

Maybe, gue nantinya bakal bikin artikel tutorial, How to be a jomblo ngenes. Ahelah, sama aja. Ya, gitu deh. Ke depannya biarkan imajinasi gue meliar, jadi gue bisa nulis lebih baik lagi. Uwuwuwuwuw~

Selamat datang kembali di blog gue!
Anw, yang mau follow gue di twitter bisa langsung ke @arnvch.

Bhayyy~

Cinta Atau Sahabat?

     Pernah ga sih nganggep sebuah persahabatan itu cuma sebuah hubungan receh antar manusia? Semoga di antara kalian ga ada yang menganggap arti sebuah persahabatan itu hal receh atau biasa. Gue pernah bikin tweet "Sahabat bukan dia yang mengajakmu tersenyum, tetapi dia yang mengajakmu tertawa. Sahabat bukan dia yang menyanjungmu, tapi dia yang memakimu." Iya, gue menganggap seorang sahabat yang benar-benar sahabat itu adalah dia yang sering tertawa lepas dan saling memaki kalo lagi ketemu. Itu "priceless" banget buat gue. Nah, pernah ga sih lu ngerasa punya seorang yang biasanya ketawa bareng dan saling maki berubah cuma kasih senyum dan tiap ketemu jadi awkward? Jadi, lewat artikel ini gue pengen sedikit curhat tentang gimana gue jadi jauh dari sahabat gue sendiri karena hal yang bisa buat suka atau duka, cinta.

     Jadi, dulu gue pas kelas X SMA punya temen yang deket banget. Sebut saja nama sahabat gue ini Adi. Kalo pulang sekolah gue sering main ke rumah Adi. Pernah suatu waktu gue beli jaket, dia juga mau. Akhirnya kita punya jaket yang sama. Kita sering main futsal bareng, iseng-iseng main band dan yang paling sering kami lakuin bareng adalah kabur saat ekskul pramuka tiap jum'at sore. Tapi semua berubah saat Adi melihat ada kakak kelas atau kakak bantara yang bisa dibilang paling cantik. Sejak saat itu kami jadi mulai rajin ikut ekskul pramuka. Hingga kemudian Adi dan kakak kelas, sebut saja namanya Nita, saling bertukar nomer handphone. Adi jadi sering curhat sama gue, mulai minta bantuan sama gue buat comblangin. Ya, okelah. Akhirnya gue bantuin Adi buat deketin Nita.

     Hingga kemudian pada suatu hari Adi mulai berubah sikap ke gue, gue juga ga tau apa yang terjadi. Hingga akhirnya gue tanya-tanya ke Adi ada apa sebenernya. Adi menjawab dengan sedikit lesu, dia bilang kalo Nita minta dicomblangin sama gue. Saat itu juga gue kaget, dan ga tau mau gimana lagi. Akhirnya gue bilang ke Adi kalo gue yang bakal comblangin dia sama Nita, gue janji. Tapi Adi pengen gue yang jadian sama Nita, dan dia memaksa dengan sedikit mengancam. Gue dalam posisi dilema, gue ga pengen bikin hancurnya hati sahabat gue, tapi gue juga ga bisa nolak permintaan dia. Bukan gue ga suka sama Nita, tapi gue sekedar suka sama Nita, bukan cinta seperti yang Adi rasakan.

      Beberapa hari kemudian gue bener-bener nurutin mau Adi, gue akhirnya jadian sama Nita. Ada ketidaknyamanan yang gue rasain. Yang paling mencolok mungkin karena kita berbeda keyakinan, beda agama dan gue lebih muda dari Nita. Otomatis gue merasa seperti "diajari". Pernah juga Nita beberapa kali main ke rumah gue, kalo berangkat ke sekolah naik bus yang sama. Dan kadang gue juga kena ledek temen-temennya. Akhirnya hubungan kita cuma bertahan satu bulan. Di satu sisi, gue ngerasa kurang nyaman, di sisi lain Nita nganggep gue childish. Oke, gue ga pengen ngelakuin pembelaan. Beberapa hari kemudian Nita ngasih gue kertas berupa puisi patah hati. Oh, God, dosa hamba apa? Hamba hanya mengikuti skenario dari orang yang hamba anggap sahabat.

     Di lain tempat, hubungan gue sama Adi makin renggang. Kita cuma senyum sambil ngobrol dengan perasaan canggung. Gue ngerasa ga enak, ngerasa salah, ngerasa berdosa, semua jadi satu. Hingga kemudian kita pisah kelas. Dia kelas XI di IPS, gue di IPA. Sejak saat itu kita bertegur sapa cuma kalo ketemu aja. Gue ngerasa aneh. Ternyata begini ya cinta yang merusak persahabatan? Baru setelah kita lulus sekolah 1-2 tahun kemudian kita bertemu kembali. Akhirnya kita melepas tawa yang sama seperti persahabatan kita yang dulu, tawa yang kusebut 'priceless' itu. Tapi tetap saja ada awkward yang timbul.

     Mulai dari situ gue mulai belajar. Kalo ada temen yang curhat atau minta dicomblangin, gue cuma mau bantu satu arah, sekedar ngasih saran aja tanpa harus kontak langsung dengan gebetan temen gue. Cukup gue kehilangan satu Adi. Gue ga pengen kehilangan temen ataupun sahabat lebih banyak. Karena cinta adalah sahabat.

*Tulisan ini pernah gue posting di blog gue yang lain, kemudian gue pindah di sini tanpa mengubah isi.

Fenomena Friendzone

"Kita teman aja ya? Kamu terlalu baik buat aku. Aku ngehargain banget perjuangan kamu, tapi aku ga mau kehilangan kamu hanya karena kita putus nanti. Kita tetap teman ya?"

#NowPlaying Gugur Bunga.


Mungkin penggalan kalimat di atas sangat familiar diucap atau didengar para muda-mudi masa kini. Kita sebatas teman, sebuah bentuk penolakan halus yang tanpa disadari sanggup membuat korbannya kehilangan air mata. Friendzone, itulah istilah kerennya. From friend to friend.

Beberapa hari ini gue sering banget nge-tweet tentang friendzone. Ya, ini sih jujur aja sedikit curhat. Dan ternyata di timeline gue ga cuma satu yang jadi korban. Berdasarkan penelitian gue mengacu pada jumlah retweet dari akun moderator tubir terbaik negeri ini, @akuitusianu, korban friendzone di negeri ini sudah memasuki jumlah yang bisa disebut "sangat banyak".

Friendzone. Terkadang terjadi akibat optimisme yang tinggi, kurang nyaman ataupun terlalu nyaman. Repot juga untuk alasan kedua dan ketiga. Baiklah, di sini gue bakal satu-persatu 3 alasan  yang gue tulis di atas.

1. Optimisme Terlalu Tinggi

Dalam kasus ini, mungkin beberapa orang kurang menyadari fatalnya "cara bicara" terhadap sebuah ekpekstasi. Semisal lo udah akrab banget sama gebetan lo nih, nah, lo mulai yakin bahwa dia bakal nerima lo. Nah, saking tingginya ekpekstasi lo, lo jadi terlalu percaya diri. Salah ya percaya diri? Tidak. Yang salah adalah cara menyikapinya. Jadi, kalau lo ngelanjutin PDKT lo dengan cara yang kurang tepat dalam bersikap, bisa jadi bumerang buat lo. Dari temen balik ke temen. Ini sebenernya lebih condong ke alasan ketiga. Saat dia makin deket sama lo, lo salah gaya bahasa misalnya. PDKT terkadang salah dengan menyebut panggilan "Gue - lo" ataupun "Wa - u". Jadi, jangan terlalu terlena terhadap sebuah ekpekstasi. Jebakkan itu bernama friendzone.


2. Kurang Nyaman

Alasan ini terlalu mudah untuk diungkapkan sih. Tapi sadar ga sih kalau cinta itu penuh misteri? Aaaattttaaaaaeeee...
Kurang nyaman ini bisa disebabkan cara PDKT lo yang terlampau agresif, terlalu sok akrab ataupun sikap-sikap lain yang dibenci gebetan. Contohnya, ngupil pake jempol. Lantas, bagaimana cara menanggulanginya? Yang pasti, lebih kenalilah gebetan lo. Lebih kenal bukan berarti sok kenal atau sok akrab. Kenali kebiasaannya. Dengan mengenali kebiasaannya lo bakal mengenal hatinya pula. Kaya apa sih cara mengenali kebiasaan? Contohnya, lo lagi makan berdua, dia suka pesan mie ayam yang saosnya dua sendok makan, kecapnya satu sendok teh, ga pake kuah. Lo mesti hafal itu, kali-kali lo jadi dapet hatinya juga.


3. Terlalu Nyaman

THIS! Bapak dari semua alasan. Ingat, bukan alasan ke fx.
Terlalu rancu sebenarnya jika menilai batas kenyamanan sebagai teman atau pacar. Takaran kenyamanan untuk jadi pacar itu tak lebih dari jadi teman. Terlalu nyaman adalah sebuah jebakkan manis, ANDA SUDAH DIPERINGATKAN!
Ga pengen kan gebetan udah deket banget tapi ditembak nolak gara-gara lo terlalu baik? Itu seperti mimpi buruk di minggu malam, BESOK SENIN!
Gue pribadi yang dulunya seorang Don Juan juga gagal memahami arti "Terlalu Nyaman" ini. Padahal gue udah berkali-kali diperingatkan, "Lo ganteng aja udah cukup, ga usah jadi lucu juga!" Tapi sayangnya gue ganteng dan lucu, jadilah gue akhir-akhir ini jomblo. Solusinya gimana? Jangan terlalu buat nyaman gebetan, tapi buatlah dia penasaran.



Oke, seperti itulah fenomena friendzone di kalangan muda-mudi saat ini. Jangan terlalu sedih atas sebuah hubungan yang gagal. Bapak Republik, Tan Malaka, saja "jomblo" sampai akhir hayatnya, tapi bisa berkontribusi besar bagi negeri ini. Lo jomblo terus ngetweet, "w mo mt ja."? Kok sama ya? Eh, maaf. Boleh ngetweet seperti itu, asal jangan dilanjutkan realisasinya. Jangan dicoba di rumah, teman-teman sepersakitan!

Faktanya, dalam friendzone, girlfriend, ataupun boyfriend terdapat kata "friend". Memang, ujung-ujungnya friend juga toh? Jangan hanya karena ditolak gebetan kalian memilih untuk menjadi pemuja biji bunga matahari. Aku semangat, kalau kamu?

*Tulisan ini pernah gue tulis di blog baru gue, kemudian gue pindah ke sini tanpa perubahan.