Cinta. Memang sepatah kata, namun tak sesederhana pengejaannya jika kita mulai merasa.
Aku sendiri terakhir merasakan cinta mungkin setahun yang lalu. Saat itu aku merasa suka dengan seorang yang mempunyai hobi yang sama denganku. Pertama kali mungkin aku hanya sekilas melihatnya, saat itu dia sedang ngobrol dengan temanku. Awalnya sih cuek aja, ya wajar sih pikirku seorang cowok bakal tertarik dengan cewek sekalipun itu pandangan pertama. Hingga akhirnya nasib baik sedang mendekatiku, saat membuka twitter ada akun dia lewat di timelineku. Langsung saja aku follow saat itu. Aku mulai mendekati dia lewat twitter, lantas aku minta kontak dia. Makin lama aku makin akrab dengan dia, ya meskipun itu dari sudut pandangku. Hingga suatu hari ada kesempatan untukku lebih dengan dia. Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengajak dia menjalankan ibadah berdasarkan hobi yang identik ini, menonton konser JKT48.
Dalam perjalanannya, sedikit aku ngerasa awkward. Gimana engga, ada seorang teman yang ngikut-ngikut buat jadi setan di antara kita. Hingga saat menonton konser makin absurd saat aku teriak-teriakkin nama Viny sama Yona. Ada juga saatnya aku jadi budak rasa haru dalam alunan Sasae. Call me wota, please.
Saat menonton konser itu pun kita lebih banyak diam. Maklum, saat itu adalah hari pertama kita kenalan. Udah awkward diikutin orang ketiga, ini juga perkenalan pertamaku dengan dia. Dan yang aku rasa sampai sekarang, kenapa aku gagal membuat hari pertama itu lebih baik? Ah.
Anyway, terimakasih banyak buat seorang teman yang sangat mau membantuku saat itu. Mulai jadi tempat curhat, hingga jadi promotor hari pertamaku kenalan dengan dia. Aku punya hutang banyak.
Di luar kejadian itu, kita lebih banyak ketemu karena nasib kurang baik dia aja, iya ketemu sama aku. Aku yang sebelumnya merasa jumawa, akhirnya perlahan-lahan runtuh saat tahu bahwa bukan aku. Iya, bukan aku yang mungkin dia harapkan. Sedih? Iya.
Tapi, hingga saat ini pernah ga sih aku nyimpen rasa dendam? Pengen ngejauh, ga pengen kenal lagi, atau acuh saat bertemu? Tidak. Aku lelah jadi pecundang. Cukuplah aku kalah sama takdir, tapi aku tak layak membenci dia yang pernah buat aku tahu rasanya menghargai. Iya, dia adalah orang yang kutahu sanggup menghargai orang lain. Sesuatu yang layak jika aku bilang dia itu istimewa.
Hingga saat ini aku masih sendiri, bahkan belum merasa jatuh cinta lagi. Atau mungkin aku sudah lupa bahwa aku pernah jatuh cinta. Tapi yang jelas, aku masih ada rasa kepada dia yang ada di cerita ini. Terima kasih telah pernah menghargaiku, maaf jika hanya kubalas rindu. Salam sayang.
No comments:
Post a Comment