Terlalu sering dirasa. Iya, mungkin itu deskripsi singkat apa itu patah hati. Maybe, sudah ratusan kali aku merasa yang namanya patah hati. Dan sesering itu pula aku menahan, bersembunyi dalam tawa yang memang terlalu akrab di wajahku.
Pernah suatu ketika aku sedang jatuh cinta, aku hanya sanggup menahan. Bukan, bukan aku tak berani mengatakan cinta, lebih kepada aku tak ingin disalahkan atas waktu yang terlalu cepat. Ah, ternyata itu hanya teori lelaki. Belum sempat aku mengatakan, aku diberi tahu dia sudah dengan yang lain dengan alasan aku terlalu lama. Kali ini aku percaya akan filosofi wanita selalu benar. Tapi ada kalanya juga kita tak harus selalu menyalahkan hak wanita yang satu itu, cukup kita bercermin. Dan akhirnya aku patah hati.
Pernah juga aku menyukai teman sekelasku sewaktu SMA. Aku sebenarnya tahu kalau dia sudah punya kekasih, jadi aku bersikap biasa. Hingga akhirnya tak bisa lagi sang rasa bersembunyi dari tuannya. Dari situ banyak orang bilang bahwa aku hanya dimanfaatin. Aku sendiri tak memikirkan itu. Aku lebih percaya bahwa yang membuatku nyaman berarti hal yang tepat buatku. Bukankah cinta tak harus memiliki? Tanpa memilikinya saja aku nyaman. Kalau aku memiliki apakah nyaman juga? Belum tentu, jadi enak mana? Oh iya, akhirnya setelah lulus SMA aku sempat jadian dengan dia. Akhirnya? Aku dan dia terlalu nyaman sebagai sahabat. Pacaran bukan solusi buat kami.
Itu dua cerita yang pernah aku rasakan tentang pengalaman patah hati. Antara kurang cepat dan suka dengan kekasih orang. Salah siapa? Tiada yang salah di sini. Karena memang cinta tak pernah salah. Dengan kedua orang yang aku ceritakan di atas, aku masih baik-baik saja. Aku tak pernah memendam dendam. Biarlah kita tetap saling mengenal, dan biarkan aku tetap menyayangi sekaligus melupakan patah hati yang pernah terjadi.
Patah hati. Sudah biasa terjadi.
No comments:
Post a Comment