"Kita teman aja ya? Kamu terlalu baik buat aku. Aku ngehargain banget perjuangan kamu, tapi aku ga mau kehilangan kamu hanya karena kita putus nanti. Kita tetap teman ya?"
#NowPlaying Gugur Bunga.
Mungkin penggalan kalimat di atas sangat familiar diucap atau didengar para muda-mudi masa kini. Kita sebatas teman, sebuah bentuk penolakan halus yang tanpa disadari sanggup membuat korbannya kehilangan air mata. Friendzone, itulah istilah kerennya. From friend to friend.
Beberapa hari ini gue sering banget nge-tweet tentang friendzone. Ya, ini sih jujur aja sedikit curhat. Dan ternyata di timeline gue ga cuma satu yang jadi korban. Berdasarkan penelitian gue mengacu pada jumlah retweet dari akun moderator tubir terbaik negeri ini, @akuitusianu, korban friendzone di negeri ini sudah memasuki jumlah yang bisa disebut "sangat banyak".
Friendzone. Terkadang terjadi akibat optimisme yang tinggi, kurang nyaman ataupun terlalu nyaman. Repot juga untuk alasan kedua dan ketiga. Baiklah, di sini gue bakal satu-persatu 3 alasan yang gue tulis di atas.
1. Optimisme Terlalu Tinggi
Dalam kasus ini, mungkin beberapa orang kurang menyadari fatalnya "cara bicara" terhadap sebuah ekpekstasi. Semisal lo udah akrab banget sama gebetan lo nih, nah, lo mulai yakin bahwa dia bakal nerima lo. Nah, saking tingginya ekpekstasi lo, lo jadi terlalu percaya diri. Salah ya percaya diri? Tidak. Yang salah adalah cara menyikapinya. Jadi, kalau lo ngelanjutin PDKT lo dengan cara yang kurang tepat dalam bersikap, bisa jadi bumerang buat lo. Dari temen balik ke temen. Ini sebenernya lebih condong ke alasan ketiga. Saat dia makin deket sama lo, lo salah gaya bahasa misalnya. PDKT terkadang salah dengan menyebut panggilan "Gue - lo" ataupun "Wa - u". Jadi, jangan terlalu terlena terhadap sebuah ekpekstasi. Jebakkan itu bernama friendzone.
2. Kurang Nyaman
Alasan ini terlalu mudah untuk diungkapkan sih. Tapi sadar ga sih kalau cinta itu penuh misteri? Aaaattttaaaaaeeee...
Kurang nyaman ini bisa disebabkan cara PDKT lo yang terlampau agresif, terlalu sok akrab ataupun sikap-sikap lain yang dibenci gebetan. Contohnya, ngupil pake jempol. Lantas, bagaimana cara menanggulanginya? Yang pasti, lebih kenalilah gebetan lo. Lebih kenal bukan berarti sok kenal atau sok akrab. Kenali kebiasaannya. Dengan mengenali kebiasaannya lo bakal mengenal hatinya pula. Kaya apa sih cara mengenali kebiasaan? Contohnya, lo lagi makan berdua, dia suka pesan mie ayam yang saosnya dua sendok makan, kecapnya satu sendok teh, ga pake kuah. Lo mesti hafal itu, kali-kali lo jadi dapet hatinya juga.
3. Terlalu Nyaman
THIS! Bapak dari semua alasan. Ingat, bukan alasan ke fx.
Terlalu rancu sebenarnya jika menilai batas kenyamanan sebagai teman atau pacar. Takaran kenyamanan untuk jadi pacar itu tak lebih dari jadi teman. Terlalu nyaman adalah sebuah jebakkan manis, ANDA SUDAH DIPERINGATKAN!
Ga pengen kan gebetan udah deket banget tapi ditembak nolak gara-gara lo terlalu baik? Itu seperti mimpi buruk di minggu malam, BESOK SENIN!
Gue pribadi yang dulunya seorang Don Juan juga gagal memahami arti "Terlalu Nyaman" ini. Padahal gue udah berkali-kali diperingatkan, "Lo ganteng aja udah cukup, ga usah jadi lucu juga!" Tapi sayangnya gue ganteng dan lucu, jadilah gue akhir-akhir ini jomblo. Solusinya gimana? Jangan terlalu buat nyaman gebetan, tapi buatlah dia penasaran.
Oke, seperti itulah fenomena friendzone di kalangan muda-mudi saat ini. Jangan terlalu sedih atas sebuah hubungan yang gagal. Bapak Republik, Tan Malaka, saja "jomblo" sampai akhir hayatnya, tapi bisa berkontribusi besar bagi negeri ini. Lo jomblo terus ngetweet, "w mo mt ja."? Kok sama ya? Eh, maaf. Boleh ngetweet seperti itu, asal jangan dilanjutkan realisasinya. Jangan dicoba di rumah, teman-teman sepersakitan!
Faktanya, dalam friendzone, girlfriend, ataupun boyfriend terdapat kata "friend". Memang, ujung-ujungnya friend juga toh? Jangan hanya karena ditolak gebetan kalian memilih untuk menjadi pemuja biji bunga matahari. Aku semangat, kalau kamu?
*Tulisan ini pernah gue tulis di blog baru gue, kemudian gue pindah ke sini tanpa perubahan.
No comments:
Post a Comment