Pages

Sunday, January 4, 2026

Kita

"Wih keren, terima kasih kak, semoga kata calonnya bisa hilang wkwkw"

Suatu waktu, aku pernah menulis sebuah cuitan. Tidak terlalu pendek, tidak juga yang terlalu panjang. Sebuah cuitan apresiasi kecil untuk seorang gadis remaja berusia 15 tahun, seorang gadis yang diam-diam kuperhatikan dan kukagumi bakat dan potensinya.

Sampai akhirnya sebuah pesan masuk, berkomentar di cuitan tersebut. Kalimatnya tidak lebih dan tidak kurang berupa kalimat pembuka tulisan ini. Itu adalah interaksi pertama kita, bahkan saat kita belum kenal satu sama lain, belum saling mengikuti di media sosial mana pun. Apa yang ada di pikiranku? Biasa saja. Karena hal yang wajar jika sesama penggemar seorang idola saling memberi dorongan agar mendukung hal yang sama.

Kita baru saling mengikuti beberapa hari setelahnya, tepatnya setelah aku memproklamirkan diri akan mendukung idola yang sama denganmu. Bayangkan, sejak hari pertama interaksi kita sudah saling menyamakan visi.

Tak sampai sebulan berselang, kita mulai beralih ke pesan singkat yang lebih terjaga kerahasiaan pembicaraannya di media sosial. Tidak ada obrolan lebih selain membicarakan idola kita itu. Bahkan kamu kuberi akses untuk mengoperasikan sebuah akun yang selanjutnya kita panggil sebagai "anak kita". Terlalu berlebihan memang, tapi tidak apa. Siapa tahu memang kita ditakdirkan untuk merawat anak bersama nantinya.

Obrolan kita yang semula monoton berupa dunia yang kita kagumi, berubah menjadi obrolan yang lebih pribadi. Rasa nyaman perlahan datang kepadaku. Aku merasa dihargai saat bicara denganmu.

Banyak hal yang kita kerjakan bersama sejak saat itu. Mulai dari mengerjakan proyek foto, video bahkan hingga membuat lagu. Kamu selalu antusias menyambut ide-ideku. Ada kalanya juga saat aku jenuh, atau kamu juga tidak bisa menjaga "anak kita", kita saling bergantian merawatnya. Apa kamu tidak merasa jika kita ini kompak?

Hampir 2 tahun sejak interaksi pertama kita, harus kuakui jika kumulai ada rasa. Kamu selalu beralasan tidak bisa membalas cepat, padahal aku tidak pernah memintanya. Sekarang, mana tanggung jawabmu sudah buatku nyaman?

Dan hari ini adalah hari spesial untukmu. Selamat bertambah usia, semoga apa yang kamu harap adalah hasil yang kamu dekap. Setiap do'a baik akan menjadi nyata, sesuai dengan cita-cita kamu. Amin, jangan? Hari yang spesial juga untuk "anak kita" yang semakin besar.

Seperti kalimat pembuka tadi, bolehkah kuhilangkan kata calon untuk kamu yang menurutku calon kekasihku itu? Bolehkah aku dan kamu itu menjadi kita?