Hari seperti biasanya. Senyum kecut hal wajib yang harus dihidangkan oleh wajah ini. Aku merasa letih sepulang kerja, tak ada yang mengingatkan makan ataupun segera ibadah kecuali orang tuaku. Dalam konteks ini, sebut saja pacar. Pacar? Yang dari mentimun bukan?
Tak berapa lama aku mulai terlibat dalam chat yang sudah biasa kujalani. Kali ini aku menjalaninya dengan agak gugup, tak terasa satu roll tisu toilet telah habis. Entah siapa yang memulai chat ini, tapi lama-lama chat ini mulai mengerucut pada hal yang sama setiap harinya. Ya, hampir setiap hari aku selalu chatting dengan orang ini. Gebetan yang sudah mendapat gelar mantan calon pacar dariku sendiri. Entah sudah berapa medali penolakan yang tergantung di kamarnya.
Malam itu, seperti biasa aku menyiapkan podium untuknya kalau-kalau aku gagal menunjukkan sisi Don Juan ku padanya. Jika biasanya medali, kali ini aku menyiapkan sebuah trofi yang bertahtakan keretakan hati. Obrolan ini sudah mulai jauh, ngalor-ngidul hingga bablas ngulon ketemu perempatan belok kiri, ketemu pos hansip berhenti. Namun aku tak merasa ada yang berbeda dari biasanya.
Tapi, ternyata dia punya kejutan lebih. Kali ini aku tak disia-siakannya. Jika biasanya aku dibiarkan bermalam di emperan hatinya, sekarang aku boleh masuk ke dalam hatinya. Bahkan, aku merasa dia menyelimutiku juga dengan cintanya. *hoek*
Malam itu tak terasa sedingin biasanya. Iya, memang hari itu agak mendung. Jadi gerahnya sungguh terasa. Jika biasanya aku mengalungkan medali tanda kemenangan dia, kali ini dia lah yang memasangkanku sebuah mahkota. Iya, mahkota bertandakan sebuah cinta. Cinta? Iya. Mungkin juga tidak. Hampir 2 tahun aku tak merasakan cinta dari seorang wanita yang biasanya dipanggil sayang. Dalam hal ini, sebut saja kekasih. Dan kali ini aku berhasil memutuskan tren ini, dengan dia yang aku damba selama ini tentunya.
Lama atau tidaknya hubungan ini, akan selalu aku syukuri. Karena bagiku, 5 tahun bukan angka yang kecil dalam sebuah penantian. *cheers* :)
Friday, April 26, 2013
Thursday, April 4, 2013
Dia Dia Dia!
*backsound: Ada Band - Haruskah Ku Mati*
Selamat malam, rekan galau sejagad raya! Salam kecut terdalam dari heningnya hatiku! Sudah terlalu lama kita tidak galau bersama. Kabar baikkah kamu, kamu, kamu? Semoga kamu tetap sehat, jangan sampai sakit ya! Takutnya nanti kamu makin ga ada yang perhatiin. :')
Kali ini aku cuma mau curhat. Boleh 'kan? Boleh dong? Yah yah yaaaahhh! Jadi gini, *hening yang panjang* *kemudian aku sedih* aku ngerasa punya perasaan yang aneh, aku tiba-tiba ngerasa cemburu aja gitu kemaren. Padahal aku ini 80% jomblo, 10% single, 5% tuna asmara, 2,5% fakir cinta dan 2,5% abu-abu monyet kehitaman. Jadi, aku ini cemburu sama siapa? Kenapa bisa cemburu? Siapa sih penyebabnya? Dia Dia Dia! Yah, Dia! Dia siapa? Ganti aja salah satu hurufnya, pasti ketemu!
Terlalu absurd yah? Iya, se-absurd aku dan perasaan ini.
*backsound: Kerispatih - Kejujuran Hati*
Sesungguhnya ku tak rela
jika kau tetap bersama dirinya
hempaskan cinta yang kuberi.
Memang indah ya galau itu! Maaf jika artikel ini tanpa arah, absurd. Se-absurd tweet aku ini:
Jadi, menurut riset sederhana saya ini, jatuh cinta adalah langkah pertama menuju fase ke-alay-an. Jika anda pernah alay, maka ini adalah alay yang udah di-upgrade levelnya. Jika anda belum pernah alay, selamat bergabung, kawan!
Entah kenapa saya jadi merasa curiga, apakah ada konspirasi antara Alay dan Maicih? Kenapa alay juga ada tingkatannya? Abaikan saja kalimat ini.
Sebenarnya artikel ini terlihat sangat tidak menarik dan sedikit 'menjijikkan', tapi ya gimana lagi, aku pengen legaan dikit sih! Maaf aja yah! Mungkin jadi fans JKT48 adalah alasan jomblo terbaik. :') Tapi jadi pacar kamu bukan cuma impian terbaik saat ini, tapi juga terindah. :')
mungkin suatu saat kamu bisa berikan ibu jari dan telunjuk kamu
untuk kita satukan dengan ibu jari dan telunjukku
agar membentuk hati dan cinta. :)
DIA DIA DIA!
*Backsound: Andra and The Backbone - Sempurna*
Subscribe to:
Posts (Atom)

