Pages

Saturday, October 31, 2020

Dukaku

"Mungkin ini memang jalan takdirku
Mengagumi tanpa dicintai."

Awalnya lagu ini tidak punya makna apa-apa untukku. Hingga pada akhirnya aku terlalu jauh menelaah arti dari setiap lirik di lagu ini. Jahat, jahat sekali lagu ini. Aku yang awalnya tidak suka band Ungu, makin hari semakin membenci. Bukan dalam arti secara harfiah, lebih ke perasaan kenapa mereka bisa membuat lirik yang terlalu dalam dan membuat duka buat yang mendengarkan? Mereka berhasil. Setidaknya satu pendengar berhasil mereka doktrin ke dalam ruang gelap patah hati. Iya, aku.

Lambat laun lagu ini sehari bisa sampai puluhan kali aku dengar. Dipadukan dengan earphone di telinga, aku sukses melewati malam-malamku dengan perasaan berbeda setiap harinya. Aku benar-benar menjadi pengikut setia rasa pedih.

Jika cinta adalah madu, maka patah hati adalah sendu. Terkadang perasaan memang tak perlu dibalas. Layaknya pesan sekedar mengucapkan selamat malam yang tak pernah terbaca. Tak mengapa bagiku, asal kau pun bahagia dalam hidupmu.

"Kuingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu."

Terkadang pesan ini ingin sekali aku sampaikan untuk dia yang membuatku tergila-gila akan lagu ini. Namun sekali lagi, dinamika lagu ini terlalu rumit untuk vokalku yang biasa saja. Layaknya aku yang pas-pasan untukmu yang jadi idola.

Aku tak pernah menyesali sebuah perasaan yang telah tercipta ini. Namun aku sedikit kecewa bagaimana aku menutup kisah ini tanpa saling menyapa.

Luangkan sedikit waktumu untuk membaca ini, aku masih belum menyerah untuk menantimu.


Dari hati yang tak pernah kau jamah,

Arie.