Pages

Thursday, December 8, 2016

Kita

Mencintaimu adalah hal yang tak pernah aku bayangkan sejak awal aku melihatmu. Tiada kesan apa-apa, bahkan aku cenderung apatis jika kucoba mengingat-ingatnya.

Kamu adalah temanku sendiri. Kamu adalah apa alasanku bungkam terhadap isi hatiku. Iya, aku menyukai kamu tanpa kamu tahu. Kamu, temanku sendiri.

Hingga ketika waktu tiba, aku mencoba jujur dengan memilih sejalan atas suara hati. Dengan segala resiko, aku memberanikan diri untuk tergabung pada kerumitan kisah cinta. Dan akhirnya kita mempunyai status yang baru.

Di awal kita bersama, semua terasa kaku. Kebiasaan seakan menenggelamkan alasan kita saling terhubung setiap hari. Seiring berjalannya waktu, akhirnya kita memulai menikmati manisnya hubungan kita, sebulan pertama kita adalah dua manusia paling berbahagia.

Memasuki tiga puluh hari kedua, hal-hal kecil dan sepele adalah alasan kita berbeda pendapat. Aku harus mencoba membiasakan diri atas rumitnya cerita ini. Kita mulai meributkan hal yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan. Namun saat itu juga aku merasa sehari tanpa adanya pertemuan adalah sebuah kerinduan.

Seperempat tahun waktu berlalu, kita makin sering berdebat. Sudahlah, biarkan semua mengalir seperti kita memulai kisah ini.

Cerita bersamamu adalah sebuah hal unik yang pernah aku jalani.

Ada waktu ketika aku hanyut akan sebuah emosi, dan kamu menyambutnya dengan hal yang sama. Sebenarnya itu bukan hal aku harapkan. Memang benar jika pertengkaran adalah penyedap dalam sebuah hubungan, namun, seberapa banyak penyedap yang dibutuhkan? Berlebihan pun akan terasa tidak nyaman.

Hingga akhirnya ketika aku menulis ini, kita sedang terlibat dalam sebuah keributan kecil karena hal sepele. Aku cuma ingin pertanyaan yang aku ajuin kamu jawab. Namun sebegitu sulitnya ternyata kamu sekedar memberi tahu bahwa kamu tak ingin menjawabnya. Apa artinya sebuah hubungan tanpa komunikasi yang jelas? Aku selama ini sering menanyakan sesuatu kepadamu, kamu sering juga hanya membacanya. Sepele? Iya.

Aku sampai tidak tahu harus bagaimana agar kamu bisa menghargai atas pertanyaan yang aku beri. Jawablah jika kamu memang mau menjawabnya, beritahu pula jika kamu memang tidak bersedia menjawabnya. Hening bukan pilihan, hal sepele menjadi keributan juga bukan sebuah penyelesaian.

Saat bertemu pun terkadang kamu lebih asik dengan handphone-mu. Baiklah, aku kali tidak ingin melarangmu bermain handphone. Tapi dengan lebih sering kamu bermain handphone, maka itu sebanding dengan waktu yang kita buang.

Mohon maaf jika aku ada salah dalam menceritakan ini. Lebih dari yang kamu tahu, aku selama ini selalu mempermasalahkan hal ini lebih karena aku sayang dengan hubungan kita. Aku ingin kita lebih terbuka, komunikasi lebih baik. Bukankah itu harapan dari kamu ketika kita tepat satu bulan?
 
Dengan secara sadar aku tahu bahwa inilah resiko yang kita ambil dengan memilih untuk menjadi sebuah pasangan. Aku ingin kita sama-sama bisa saling berbagi, belajar, hingga mendewasakan diri karena kita terjebak dalam sebuah masalah. Namun dengan frekuensi kita ribut makin sering, itu artinya ada yang salah dengan kita. Apa kamu masih bersedia membenarkan apa yang salah di antara kita? Dan kuharap kita tak lagi saling menyalahkan.

Dari aku yang selalu menyayangimu, Arie.


*NB: Aku tidak pernah bermaksud mengatur-atur kamu.

No comments:

Post a Comment