Beberapa hari yang lalu kamu bertanya, “nulis di blog lagi
ngga?” aku bilang belum ada waktu saat itu. Dan hari ini akhirnya aku merasa
perlu buat nulis di sini lagi. Tentu tentang kita, masalah kita dan perasaan
ini...
Di awal jadian, perasaan kita cenderung tak ada yang
istimewa. Bahkan aku tau kalau kamu tidak ada rasa ‘sayang’ sedikit pun
terhadapku. Aku? Memang, aku saat itu aku ngerasa sayang, tapi ya mungkin tidak
terlalu besar. Hingga akhirnya kita jadi sepasang kekasih dengan modal “kita
jalanin aja dulu”. Sampai sini aku tidak ada ekspektasi lebih terhadap
huubungan ini. Hingga berjalannya waktu, aku yang sebelumnya biasa dikalahkan
oleh “kebiasaan”, iya, akhirnya aku benar-benar merasa sayang secara utuh
terhadap kamu.
Seiring waktu, kita mulai menjalani cerita, beberapa seperti
yang pernah aku tulis di artikel sebelumnya. Singkatnya, di artikel kedua ini
aku ingin curhat tentang yang aku rasain hari ini...
Sedari semalam kita sedang menjalani rumitnya masalah
sepele. Saat aku dikalahkan oleh rasa emosi, aku mulai marah-marah tidak jelas.
Dan kamu pun tak kalah menunjukkan kemampuan kamu untuk marah. Saat aku mulai
bisa kendaliin diri, aku sadar kalau aku sudah terlambat. Kamu sudah masuk fase
“kesal” yang beneran kesal. Aku coba buat temuin kamu, berharap kita sama-sama
bisa bicara baik-baik, nyatanya aku kembali terjebak dalam kubang emosi. Aku
pulang dengan perasaan campur aduk, aku ingin marah. Aku ingin menyalahkan kamu
dengan segala dakwaan bahwa kamu adalah orang yang cuek, kalau dinasehatin
susah, kamu orangnya emosian, kamu orang yang ga pernah belajar hingga kita
selalu bertengkar. Nyatanya, aku terlalu jemawa dengan berpikir seperti itu.
Seperti bumerang, hal-hal yang aku tuduhkan tersebut berlaku juga buat aku.
Iya, aku terlalu sibuk membenarkan kebenaran versi aku sendiri tanpa
mementingkan apa sebenarnya alasan kita harus bersama. Iya, aku sadar aku juga
egois.
Akhirnya tadi pagi aku merasa sangat kecewa, saat semalam
kita sepakat bahwa aku akan antar-jemput kamu kuliah, terus aku ingin ajak
jalan, semuanya jadi kacau saat kamu lebih memilih untuk berangkat sendiri. Dan
saat pulang, tanpa kasih kabar kamu sudah di jalan pulang, padahal aku sudah
nunggu di depan kampus kamu dari jam 11 siang. Lagi-lagi masalah komunikasi
jadi sumber masalah di antara kita. Aku ngerasa kecewa, cape, dan ga tau lagi
mau gimana. Aku ngerasa gelisah se-gelisah-gelisahnya. Mungkin kamu sampai
sekarang berpikir kalau aku masih menuntut kamu untuk ini-itu gara-gara
kejadian dari semalam, padahal itu tidak benar sama sekali. Aku sudah sadar
kalau aku sendiri juga harus berubah. Bukan jadi orang lain, tapi jadi lebih
baik. Memanajemen emosi memang susah, tapi bukan mustahil buat dilakukan bukan?
Di awal kita pacaran mungkin aku orangnya sabar, sering ngalah. Tapi makin ke
sini aku mulai sadar kalau aku ikut terbawa emosi saat kamu emosi, saat kamu
keras aku keras, saat kamu teguh sama pemikiran kamu, aku juga begitu. Harusnya
aku terus bersabar agar kamu bisa ngikutin aku sabar, bukan aku ikut marah saat
kamu marah. Mungkin inilah yang disebut karena makin sayang, makin kita ingin
pasangan kita bersikap sama seperti yang kita ingin. Mungkin aku terlalu jauh
menuntut dan berharap tentang ini.
Saat aku terbawa emosi, aku ingin segera masalah ini
berakhir entah dalam keadaan kita masih bersatu ataupun kita berpisah. Hingga
aku tersadar bahwa hubungan ini akan baik-baik kembali jika kita bersikap sama
seperti awal kita pacaran. Kita memang perlu mereset sikap kita yang berfikir
kalau hubungan kita baik-baik saja, terlalu naif memang jika kita berpikir
seperti itu.
Jadi mulai di sini, ijinkan aku jadi pihak yang bersalah.
Merawat hubungan baik tidak cukup dengan saling koreksi, tapi juga intropeksi.
Kuharap kita masih ada kesempatan untuk terus bersama. Memang, piring yang
sudah pecah jika diperbaiki akan meninggalkan bekas. Kalau sudah begitu buang
saja piring itu, kita beli yang baru dan lebih bagus. Seperti halnya hubungan
kita yang mulai retak ini, alangkah baiknya kita buang sekalian sifat-sifat
buruk kita yang membuat retak hubungan kita ini, ayo kita mulai lagi.
Jadi, apakah kamu masih bersedia untuk bersama-sama berfikir
dewasa, saling koreksi dan intropeksi diri? Aku sayang kamu lebih dari pertama
kali kita dipersatukan, aku sudah terbiasa merasa rindu saat kita tidak
bersama. Jangan biarkan itu berakhir.
Sayang..
No comments:
Post a Comment