Matahari mulai
menyapa dengan sedikit sadis, terlihat Rian menuntun sepedanya perlahan
memasuki halaman sekolah. Sekolah Rian memang mengharuskan setiap siswa untuk
tidak menaiki sepedanya saat memasuki sekolah. Rian memarkirkan sepedanya di
parkiran belakang kelas, lalu iya bergegas ke kelasnya. Saat melewati kantin,
Rian melihat ada seorang gadis bermata sedikit sipit, berkulit putih dengan
sedikit kemerah-merahan di pipinya, dialah Vera. Ada sedikit perasaan yang aneh
terjadi pada diri Rian, dia merasa seperti mulai jatuh cinta. Rian hanya
tersenyum-senyum sendiri, dia tak ingin orang-orang tahu tentang perasaannya.
Di kelas pun dia merasa sedikit tak tenang.
Hingga akhirnya
waktu pulang tiba, Rian buru-buru pulang sambil berharap Vera sudah ada di
depan sekolah. Dan benar saja, saat itu Vera sudah ada di depan sekolah. Rian
tak berani mendekat karena dia hanya membawa sepeda, bukan motor seperti
kebanyakan temannya yang lain. Rian pun mengurungkan niatnya, dia lalu pulang
sambil tersenyum kecut.
Dalam seminggu
belakangan aktivitas Rian selalu sama, yaitu memata-matai Vera. Dan hingga saat
ini masih sama. Sepulang sekolah, Rian yang sudah ada di rumahnya membuka
handphonenya bermaksud untuk chatting. Saat Rian mulai bosan, dia bermaksud menutup
aplikasinya. Tanpa Rian sangka, ada orang baru menyapanya. Rian mengurungkan
niatnya untuk menutup aplikasinya itu, lalu dia mulai berkenalan dengan orang
itu. Setelah chatting berjam-jam, akhirnya Rian tahu kalau itu adalah Vera.
Rian merasa sangat gembira, hingga akhirnya dia koprol-koprol di kamarnya. Tapi
dia koprol tanpa bilang wow.
Esoknya saat di
sekolah, Rian mulai berani senyum kepada Vera, begitu pun Vera. Rian mulai
optimis dengan kehidupan cintanya nanti. Bahkan saat istirahat, Rian mulai
berani ngobrol dengan Vera dan kembali ke kelas pun bersama Vera. Rian mulai
merasa semakin mudah untuk mendapatkan Vera. Namun, tampaknya Rian melupakan
prinsip “Hidup bagaikan roda.” Memang saat ini dia bisa dekat dengan Vera, tapi
apa yang terjadi besok? Ya, hidup kadang di atas, kadang pula di bawah, dan
kadang pula roda itu menginjak kotoran.
Bencana itu pun
datangnya tak lama. Terlihat Rian dan Vera mulai tak saling sapa, hal itu mulai
terjadi karena kesalah pahaman. Rian berkata kalau Vera sering ganti pacar
karena Vera memang cantik, namun Vera mengira jika Rian menyebutnya sebagai
playgirl, hingga akhirnya Vera merasa tersinggung. Vera juga tak mau kalah
menyebut Rian sebagai playboy yang tak laku.
Setelah seminggu
tak saling sapa, akhirnya Rian mulai menyapa Vera lewat SMS. Vera ternyata
masih mau mebalas. Namun bukan damailah yang didapat, namun sebuah tantangan
dari Vera yang didapat. Vera menantang Rian untuk mendapatkan pacar dalam waktu
3 hari, siapa yang paling cepat dialah yang menang. Rian mengiyakan tantangan
itu meskipun Rian bukan orang yang mudah jatuh cinta.
Rian mulai
bingung untuk memulai dan mengakhiri tantangan ini, dia tak punya banyak
kenalan cewek. Hingga akhirnya tiba lah dihari ke-3, hari terakhir dimana tantangan
ini akan berakhir. Rian dan Vera merencanakan bertemu di suatu tempat. Rian
menunggu kedatangan Vera dengan gelisah, bagaimana jika Vera datang dengan
pacar barunya? Hukuman apa yang akan diberikan Vera kepada Rian?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mulai memenuhi kepala Rian, Rian tak bisa
tenang saat itu. Ditengah lamunannya, Rian dikejutkan oleh Vera.
“Mana pacar lo,
Yan?” tanya Vera.
“Haha... Pacar lo dulu mana!”
jawab Rian.
“Lo kok gitu sih, Yan?”
“Lo gitu juga sih Ve, gue ‘kan ga
bisa nyari pacar dalam waktu 3 hari!”
“Haha.. Gue pikir Cuma gue yang ga
bisa!” jawab Ve sambil tertawa.
“Hah? Lo juga ga dapet?”
“Iya aja deh, Yan!” Lalu mereka
tertawa bersama.
“Ga ada yang menang dong?” tanya
Vera.
“Harus ada dong!”
“Emang lo mau perpanjang tantangan
ini?” tanya Ve.
Rian hanya tersenyum. Hal itu tentu saja memancing pertanyaan Vera. Rian
masih diam, dan Vera juga masih diam menanti Rian bicara. Rian menarik nafas
panjangnya, lalu berkata.
“Gimana kalo lo aja yang jadi pacar gue, Ve?”
“Hah?” Ve terkejut.
“Malah hah, jawab dong!”
“Lo serius, Yan?” Ve bertanya
keheranan.
“Lo pikir? Duarius, tigarius juga
deh!” jawab Rian.
“I... Iya deh, Yan?”
“Ciyus? Miapah? Enelan? Ga oong?”
“Lo mau gue terima apa gue
gampar?” Vera sedikit kesal.
“Ya maaf deh, sayang!” jawab Rian
sambil tertawa kecil.
Tak berapa lama, mereka saling berpeluk. Tak
disangka, ternyata mereka saling suka sejak lama. Namun karena mereka tak
saling kenal, perasaan mereka tak tersampaikan. Vera tak ingin disebut sebagai
playgirl karena dia tak ingin namanya jadi jelek didepan orang yang dia sukai.
Dan akhirnya Rian dan Vera bisa mengawali hari baru mereka sebagai sepasang
kekasih. ^^
inspired by: C.R.A (my ex)
I MISS YOU!
No comments:
Post a Comment