Pages

Saturday, October 6, 2012

CERPEN: Rasa Lama


      Matahari mulai menyapa dengan sedikit sadis, terlihat Rian menuntun sepedanya perlahan memasuki halaman sekolah. Sekolah Rian memang mengharuskan setiap siswa untuk tidak menaiki sepedanya saat memasuki sekolah. Rian memarkirkan sepedanya di parkiran belakang kelas, lalu iya bergegas ke kelasnya. Saat melewati kantin, Rian melihat ada seorang gadis bermata sedikit sipit, berkulit putih dengan sedikit kemerah-merahan di pipinya, dialah Vera. Ada sedikit perasaan yang aneh terjadi pada diri Rian, dia merasa seperti mulai jatuh cinta. Rian hanya tersenyum-senyum sendiri, dia tak ingin orang-orang tahu tentang perasaannya. Di kelas pun dia merasa sedikit tak tenang.

     Hingga akhirnya waktu pulang tiba, Rian buru-buru pulang sambil berharap Vera sudah ada di depan sekolah. Dan benar saja, saat itu Vera sudah ada di depan sekolah. Rian tak berani mendekat karena dia hanya membawa sepeda, bukan motor seperti kebanyakan temannya yang lain. Rian pun mengurungkan niatnya, dia lalu pulang sambil tersenyum kecut.

     Dalam seminggu belakangan aktivitas Rian selalu sama, yaitu memata-matai Vera. Dan hingga saat ini masih sama. Sepulang sekolah, Rian yang sudah ada di rumahnya membuka handphonenya bermaksud untuk chatting. Saat Rian mulai bosan, dia bermaksud menutup aplikasinya. Tanpa Rian sangka, ada orang baru menyapanya. Rian mengurungkan niatnya untuk menutup aplikasinya itu, lalu dia mulai berkenalan dengan orang itu. Setelah chatting berjam-jam, akhirnya Rian tahu kalau itu adalah Vera. Rian merasa sangat gembira, hingga akhirnya dia koprol-koprol di kamarnya. Tapi dia koprol tanpa bilang wow.

     Esoknya saat di sekolah, Rian mulai berani senyum kepada Vera, begitu pun Vera. Rian mulai optimis dengan kehidupan cintanya nanti. Bahkan saat istirahat, Rian mulai berani ngobrol dengan Vera dan kembali ke kelas pun bersama Vera. Rian mulai merasa semakin mudah untuk mendapatkan Vera. Namun, tampaknya Rian melupakan prinsip “Hidup bagaikan roda.” Memang saat ini dia bisa dekat dengan Vera, tapi apa yang terjadi besok? Ya, hidup kadang di atas, kadang pula di bawah, dan kadang pula roda itu menginjak kotoran.

     Bencana itu pun datangnya tak lama. Terlihat Rian dan Vera mulai tak saling sapa, hal itu mulai terjadi karena kesalah pahaman. Rian berkata kalau Vera sering ganti pacar karena Vera memang cantik, namun Vera mengira jika Rian menyebutnya sebagai playgirl, hingga akhirnya Vera merasa tersinggung. Vera juga tak mau kalah menyebut Rian sebagai playboy yang tak laku.

     Setelah seminggu tak saling sapa, akhirnya Rian mulai menyapa Vera lewat SMS. Vera ternyata masih mau mebalas. Namun bukan damailah yang didapat, namun sebuah tantangan dari Vera yang didapat. Vera menantang Rian untuk mendapatkan pacar dalam waktu 3 hari, siapa yang paling cepat dialah yang menang. Rian mengiyakan tantangan itu meskipun Rian bukan orang yang mudah jatuh cinta.

     Rian mulai bingung untuk memulai dan mengakhiri tantangan ini, dia tak punya banyak kenalan cewek. Hingga akhirnya tiba lah dihari ke-3, hari terakhir dimana tantangan ini akan berakhir. Rian dan Vera merencanakan bertemu di suatu tempat. Rian menunggu kedatangan Vera dengan gelisah, bagaimana jika Vera datang dengan pacar barunya? Hukuman apa yang akan diberikan Vera kepada Rian? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mulai memenuhi kepala Rian, Rian tak bisa tenang saat itu. Ditengah lamunannya, Rian dikejutkan oleh Vera.
   “Mana pacar lo, Yan?” tanya Vera.
“Haha... Pacar lo dulu mana!” jawab Rian.
“Lo kok gitu sih, Yan?”
“Lo gitu juga sih Ve, gue ‘kan ga bisa nyari pacar dalam waktu 3 hari!”
“Haha.. Gue pikir Cuma gue yang ga bisa!” jawab Ve sambil tertawa.
“Hah? Lo juga ga dapet?”
“Iya aja deh, Yan!” Lalu mereka tertawa bersama.
“Ga ada yang menang dong?” tanya Vera.
“Harus ada dong!”
“Emang lo mau perpanjang tantangan ini?” tanya Ve.

  Rian hanya tersenyum. Hal itu tentu saja memancing pertanyaan Vera. Rian masih diam, dan Vera juga masih diam menanti Rian bicara. Rian menarik nafas panjangnya, lalu berkata.
 “Gimana kalo lo aja yang jadi pacar gue, Ve?”
“Hah?” Ve terkejut.
“Malah hah, jawab dong!”
“Lo serius, Yan?” Ve bertanya keheranan.
“Lo pikir? Duarius, tigarius juga deh!” jawab Rian.
“I... Iya deh, Yan?”
“Ciyus? Miapah? Enelan? Ga oong?”
“Lo mau gue terima apa gue gampar?” Vera sedikit kesal.
“Ya maaf deh, sayang!” jawab Rian sambil tertawa kecil.

 Tak berapa lama, mereka saling berpeluk. Tak disangka, ternyata mereka saling suka sejak lama. Namun karena mereka tak saling kenal, perasaan mereka tak tersampaikan. Vera tak ingin disebut sebagai playgirl karena dia tak ingin namanya jadi jelek didepan orang yang dia sukai. Dan akhirnya Rian dan Vera bisa mengawali hari baru mereka sebagai sepasang kekasih. ^^


inspired by: C.R.A (my ex)
I MISS YOU!

No comments:

Post a Comment