Pages

Wednesday, January 8, 2014

CERPEN: Cinta Abu-Abu





“Udah kelar kuliahnya?” Begitu bunyi chat Dion kepada Eno.
“Belum, bentar lagi. Tumben ngechat? Hahaha.” Balas Eno.
“Kangen.”
“Hahaha.. Pale lu jajaran genjang!”
“Ciyus ini?”
“Ciyus? Ciyus apa?”
“Miley Ciyus. Twerking yuk? Halah. Main yuk?”
“Hah? Ke mana? Tumben ngajak main?”
“Ke mana kek, yang penting romantis.”
“Mulai deh. Ya udah, jam 7 malam entar yak!”
“Siap, Buuukkk…”

     Begitulah percakapan di whatsapp antara Dion dan Eno, sepasang anak manusia yang bisa dikatakan sedang terjebak dalam perasaan cinta abu-abu. Mereka saling mengenal sekitar dua tahun yang lalu di tempat kerja Eno yang lama. Sebagai cowok, Dion yang melihat sesosok gadis manis langsung pasang aksi, dia mulai dari sok asik hingga sok pandai menggoda. Hingga akhirnya si Dion berhasil mendapatkan nomer hape Eno. Mereka jadi sering SMS-an, tapi tidak pernah telepon. Maklum, anak irit. Sejak saat itu mereka makin dekat hingga hubungan mereka abu-abu seperti ini.

“Gue udah di TKP nih!” Dion mulai menghubungi Eno.
“Gue lagi di taman, No!” Dion menambahi. Tapi Eno tak juga membalas.
“Bagaimana?” Dion tanya lagi.
“Eh, aku SMS tadi. Oke, aku cus!” balas Eno.
“Hah, SMS?” Dion bingung. Lantas dia cek hape dia yang lain.
“Emaap, ga tau ada sms. Ya udah cepet ke sini.” Balas Dion.

     Tak berapa lama Eno datang sambil tertawa.
“Ih, gendut!” Eno berteriak.
“Iiihh.. Makin cantik!” Balas Dion.
“Ke mana nih?” Tanya Dion.
“Ya berdiri aja.” Jawab Eno.
“Ga enak kheleus. Ke sana aja.” Dion mengajak pindah ke kursi taman.

“Eh, kita mau ngapain ngomong-ngomong?” Tanya Dion.
“Ga berubah ya. Lu yang ngajak lho! Kok malah bingung?” Eno menggerutu.
“Gue juga ga tau. Hahaha.”
“Ya udah, kita mandangin rumput.” Eno menjawab agak ketus.
“Eh, aku kangen tauk!”
“Miley Ciyus?”
“Jelaslah! Justin Bieber!”
“Lu mah ga pernah serius!” Eno mulai agak kesal.
“Kalau gue serius mah kita udah jadian dari dulu.”
“Hah? Maksud lu, Yon?”
“Iya. Gue masih suka kali sama lu!”
“Lu telat sih dulu. Padahal yang gue tunggu dulu itu lu yang pertama nembak gue. Dari beberapa cowok yang deket sama gue, sebenernya temen gue juga paling dukung gue sama lu. Tapi lu kaya ga serius sih.”
“Ya bukannya ga serius, No. Cuma gue ga pengen buru-buru waktu itu.”
“Gue juga ga suka buru-buru sih. Tapi kalau kelamaan juga berjamur, Yon!”
“Ya, gue tau. Padahal waktu itu gue udah persiapin rencana buat nembak lu. Tapi lu keburu jadian sama si itu.”
“Ya, ya udah sih.” Eno memotong perkataan Dion.
“Ya kalo gue ulang sekarang gimana? Oke lah. Gue masih sayang sama lu! Ini terserah mau lu jawab apa ga.”
“Eh, lihat, Yon. Bintangnya terang ya!” Eno mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Eno.. Aku tau kalau LDR nanti bukan hadiah yang pas kalau lu jawab iya sekarang. Tapi ya gimana lagi. Gue baru berani ngomong sekarang lagi.”
“Bukannya aku ga mau. Cuma aku takutnya nanti kamu gimana di sana. Kamu bisa kok dapat pacar di tempat lu yang baru dengan cepat. Gue kadang ga percaya cowok kaya lu bisa ga punya pacar.”
“It’s Okay! Gue ga mau menjelaskan alasan. Kalau gue banyak alasan makin ngejelasin kalau gue emang kaya cowok pembual. Emang sih gue pembual, tapi ga kaya gitu juga. Hahahaha.” Dion mencoba mencairkan suasana.

     Dion yang baru bisa ketemuan lagi dengan Eno memang berniat untuk pindah tempat tinggal. Makanya Dion mengajak Eno ketemuan. Alasannya Cuma satu, agar dia tak menyesal karena tak sempat mengungkapkan perasaannya kepada Eno.

“Eh, iya cokelat yang dulu lu kasih itu gue makan sendiri lho! Padahal biasanya kalau gue dapat cokelat dari yang lain gue kasih lagi ke orang lain.”
“Hah?” Dion kaget.
“Iya, bener. Bungkusnya aja gue simpen sampai beberapa bulan sebelum dibuang sama Tante gue!”
“Plis lah, Eno! Kenapa lu ga kasih kode gue? Apa gue yang ga peka?” Dion terlihat menyesal.
“Haha. Udahlah. Mungkin ini emang takdir kita. Selama ini juga lu ga nyari gue sih.”
“Iya sih. Kalau boleh ulang, gue masih sayang lu, No!”

     Mendengar ucapan Dion, Eno hanya tersenyum. Lalu mereka beranjak dari tempat itu dan bergegas pulang. Mereka yang terjebak oleh cinta abu-abu, tak sanggup menjawab tantangan jarak yang akan segera memisahkan. Ya, begitulah takdir. Segala kemiripan dan kecocokan yang dimiliki sepasang manusia, belum tentu bisa bersama. Bahkan perasaan yang sama pun tak bisa menolak jika takdir yang berkata. Cinta Abu-Abu. :’)



Seperti yang sudah-sudah. This is my real story. :')

No comments:

Post a Comment